Menjaga Siri’ di Beranda NKRI: Manifesto Kebangsaan Akhmad Rosano dari Batam untuk Indonesia
Batam | pkss-news.id : Dari Batam, Singapura dan Malaysia hanya terlihat sepelemparan batu. Gemerlap gedung pencakar langit dan lancarnya layanan publik di negara tetangga menjadi pemandangan sehari-hari bagi warga perbatasan. Di sinilah ujian wawasan kebangsaan dipertaruhkan, bukan di ruang kelas, tapi di meja makan, di pelabuhan, dan di layar ponsel generasi muda.
Menjawab tantangan itu, Ketua Umum Perkumpulan Kekerabatan Sulawesi Selatan (PKSS), Akhmad Rosano, memaparkan sebuah manifesto kebangsaan yang jujur, tajam, dan membumi. Bukan nasionalisme slogan, melainkan nasionalisme yang menjawab perut, harga diri, dan keadilan.
Nasionalisme Tidak Bisa Hanya Doktrin
Menurut Rosano, tantangan terbesar generasi muda Batam hari ini adalah kalkulasi pragmatis.
“Mereka setiap hari melihat kemajuan fisik dan ekonomi negara tetangga. Tantangannya adalah bagaimana membuat mereka tetap bangga menjadi Indonesia ketika dihadapkan pada ketimpangan infrastruktur, fasilitas kesehatan, atau lapangan kerja,” ujarnya.
Ia menegaskan, nasionalisme hari ini tidak bisa lagi hanya berupa hafalan sejarah. Ia harus dijawab dengan pemerataan kesejahteraan. Namun ia menolak anggapan bahwa kedekatan dengan Singapura dan Malaysia mengikis cinta tanah air.
“Ini pisau bermata dua, tapi bagi warga perbatasan yang tangguh, ini justru memperkuat nasionalisme. Berobat atau belanja ke sana adalah soal pilihan rasionalitas pelayanan, bukan pengkhianatan negara,” katanya.
Justru dari kedekatan itu, lahir rasa Siri’, harga diri khas Bugis-Makassar untuk terpacu menjadi lebih baik.
“Negara kita lebih besar, sumber daya kita lebih kaya, kita harus bisa lebih baik dari mereka,” tegasnya.
Untuk menjaga identitas itu, paguyuban tidak bisa hanya jadi tempat kumpul arisan. PKSS, kata dia, adalah benteng pertahanan budaya. Dengan prinsip Siri’ na Pacce dan falsafah ‘Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, paguyuban melakukan tiga kerja konkret: menyisipkan nilai toleransi dalam setiap kegiatan adat, membangun kemandirian ekonomi lewat UMKM agar bangga produk sendiri, dan menjadikan paguyuban sebagai ruang aman bagi anak muda untuk mengenal akarnya di tengah gempuran budaya asing.
Pesan Lugas untuk Jakarta: Jangan Jadikan Kami Halaman Belakang
Soal kedaulatan di Natuna Utara dan Selat Malaka, Rosano mengirim pesan lugas kepada pemerintah pusat. Jangan lagi memandang Kepri hanya sebagai buffer zone atau sapi perah devisa.
“Masyarakat perbatasan adalah pagar hidup negara. Berikan kami porsi pembangunan ekonomi, maritim, dan pendidikan yang sepadan. Jika warga perbatasan sejahtera, tak perlu disuruh pun, dada kami yang akan maju pertama kali jika ada kedaulatan yang diusik,” ujarnya.
Tegas Soal SARA, Hoaks, dan Tolak RT/RW Jadi Tukang Tagih Pajak
Batam adalah miniatur Indonesia. Di kota yang super heterogen ini, sikap Rosano soal SARA sangat tegas, tidak ada ruang untuk ego sektoral.
“Paguyuban dibentuk untuk merawat persaudaraan ke dalam, bukan untuk unjuk kekuatan ke luar. Jika ada gesekan, penyelesaiannya harus lewat meja ‘tudang sipulung’, musyawarah. Sebelum menjadi orang Bugis, Makassar, Toraja atau Mandar, kita adalah warga negara Indonesia,” katanya.
Jika ada anggota yang silau dan meremehkan budaya sendiri, pendekatannya persuasif.
“Boleh punya pikiran global, tapi kaki harus tetap berpijak pada bumi pertiwi. Orang yang tak punya akar budaya tidak akan dihormati di pergaulan internasional.”
Untuk melawan hoaks dan radikalisme, PKSS menggunakan struktur paling bawah, dari DPD, DPC hingga grup WhatsApp keluarga, untuk menggalakkan budaya tabayyun, cek dan ricek. Pengurus wajib meluruskan dan memutus rantai hoaks.
Sikap yang sama tegas ia tunjukkan pada isu penyelundupan, narkoba, dan PMI ilegal yang marak di jalur tikus perbatasan.
“Haram hukumnya menoleransi. Itu merendahkan martabat, merusak Siri’. Jika ada anggota terlibat, paguyuban tidak akan melindungi. Silakan proses hukum dengan tegas,” ujarnya.
Ia juga mengkritik wacana pelibatan RT/RW untuk menagih pajak kendaraan. Menurutnya, wacana itu berpotensi memecah belah.
“RT/RW adalah pamong sosial, tugasnya merawat kerukunan dan gotong royong. Jika dibebani sebagai penagih pajak, hubungan emosional dengan warga akan rusak. Biarkan pajak dikelola instansi berwenang dengan sistem digital,” tegasnya.
Lalu bagaimana menjelaskan pentingnya taat pajak di tengah krisis kepercayaan publik?
“Analoginya sederhana. Kalau atap rumah kita bocor, yang diperbaiki atapnya, bukan dengan cara membakar rumahnya. Oknum korup harus dihukum seberat-beratnya, tapi rumah Indonesia ini tetap butuh kita rawat bersama,” katanya.
Soal investasi sensitif seperti di Rempang, ia menegaskan posisi PKSS bukan stempel penguasa.
“Kami siap jadi mitra strategis untuk Bela Negara. Tapi untuk Rempang, kami harus jadi jembatan dua arah. Membantu sosialisasi program pemerintah, tapi juga wajib menyuarakan jeritan hati rakyat agar pendekatannya humanis dan berkeadilan, bukan penggusuran paksa.”
Apa Itu Indonesia?
Di akhir wawancara, Rosano memberikan definisi yang paling personal tentang Indonesia. Sebuah definisi yang lahir dari seseorang yang setiap hari melihat negara lain dari beranda rumahnya.
“Indonesia adalah rahim tempat kita dilahirkan dan pangkuan tempat kita akan kembali pulang. Singapura dan Malaysia boleh memanjakan mata dengan gemerlapnya, tapi urat nadi, darah, dan sujud kita tetap berakar kuat di tanah air ini. Indonesia bukan sekadar letak geografis, tapi jiwa yang menyatukan kita.”
Jika diberi waktu satu menit berbicara di depan Presiden Prabowo Subianto, ini pesannya:
“Bapak Presiden yang saya hormati. Perbatasan di Kepulauan Riau bukan sekadar garis batas militer, ia adalah wajah ekonomi dan martabat bangsa ini. Tolong bangunlah Batam dan Kepri dengan hati dan keadilan. Jangan jadikan kami sekadar ‘halaman belakang’ yang hanya diingat saat ada konflik kedaulatan, tapi jadikanlah kami ‘beranda depan’ yang megah, sejahtera, dan membuat siapa pun yang melintas di Selat Malaka menengok dan segan kepada kebesaran Republik Indonesia.”
Dan untuk generasi muda, ia menutup dengan sebuah panggilan:
“Anak-anakku, rumput tetangga mungkin terlihat lebih hijau hari ini karena mereka lebih dulu menyiramnya dengan sistem yang rapi. Tapi ketahuilah, tanah pertiwi kita jauh lebih luas dan lebih subur. Tugas kalian bukanlah menyeberang ke halaman tetangga, tapi membawa air dan pupuk ilmu pengetahuan untuk merawat Merah Putih di tanah sendiri. Kalau bukan kalian yang menjaga kehormatan beranda depan ini, lantas siapa lagi?” (Red)
