Sumpah Setia Melayu-Bugis Tahun 1671: Fakta Sejarah yang Jarang Diketahui
Batam | pkss-news.id – Hubungan masyarakat Melayu dan Bugis di Kepulauan Riau bukan sekadar ikatan budaya atau hubungan kekerabatan biasa. Di balik sejarah panjang kawasan Selat Malaka, terdapat sebuah peristiwa penting yang sering disebut sebagai Sumpah Setia Melayu-Bugis, sebuah ikatan politik dan persaudaraan yang menjadi fondasi lahirnya peradaban Melayu modern di kawasan Riau, Johor, Lingga, Singapura, hingga Selangor.
Di kalangan masyarakat Bugis dan Melayu, peristiwa tersebut dikenal sebagai simbol persatuan dua bangsa serumpun dalam menghadapi konflik politik dan ancaman kekuatan asing pada abad ke-17 hingga awal abad ke-18.
Meski sering disebut sebagai Sumpah Setia Melayu-Bugis Tahun 1671, sejumlah sejarawan menilai bahwa ikatan tersebut berkembang melalui proses sejarah yang berlangsung dalam beberapa tahap. Bukti-bukti sejarah yang lebih banyak terdokumentasi menunjukkan bahwa kerja sama politik Melayu-Bugis menguat pada awal abad ke-18, terutama setelah kedatangan lima bangsawan Bugis ke wilayah Johor-Riau.
Berawal dari Pergolakan Kesultanan Johor
Pada penghujung abad ke-17, Kesultanan Johor-Riau menghadapi masa sulit. Perebutan kekuasaan di lingkungan kerajaan, ditambah ancaman dari berbagai kekuatan luar, membuat stabilitas kawasan terganggu.
Dalam situasi tersebut, kerajaan Melayu meminta bantuan kepada para bangsawan Bugis yang dikenal memiliki kemampuan militer sekaligus jaringan pelayaran yang luas di Nusantara.
Permintaan bantuan itu kemudian melahirkan hubungan politik yang sangat erat antara kedua pihak.
Kedatangan Lima Opu Daeng
Tokoh sentral dalam sejarah ini adalah lima bersaudara keturunan bangsawan Bugis dari Sulawesi Selatan, yaitu:
- Opu Daeng Parani
- Opu Daeng Marewa
- Opu Daeng Manambun
- Opu Daeng Cellak
- Opu Daeng Kemasi
Mereka merupakan putra Opu Tendriborong Daeng Rilakka dari Kerajaan Luwu.
Kelima bangsawan tersebut kemudian berlayar menuju Kepulauan Riau dan Johor untuk membantu Kesultanan Johor menghadapi konflik internal sekaligus mengembalikan kekuasaan Sultan yang sah.
Keberhasilan mereka mengubah peta politik kawasan menjadi titik awal lahirnya hubungan Melayu-Bugis yang bertahan selama berabad-abad.
“Seperti Mata Hitam dan Mata Putih”
Dalam berbagai naskah Melayu klasik, hubungan Bugis dan Melayu digambarkan dengan ungkapan yang sangat terkenal.
“Seperti mata hitam dengan mata putih.”
Ungkapan tersebut melambangkan bahwa kedua bangsa tidak dapat dipisahkan.
Melayu dan Bugis dipandang sebagai dua unsur berbeda yang saling melengkapi, bukan saling menguasai.
Filosofi ini kemudian menjadi dasar lahirnya jabatan Yang Dipertuan Muda Riau, yang hampir seluruhnya dipegang oleh keturunan Bugis, sementara Sultan tetap berasal dari garis keturunan Melayu.
Model pemerintahan tersebut menjadi salah satu bentuk pembagian kekuasaan paling unik dalam sejarah Nusantara.
Membentuk Peradaban Baru di Selat Malaka
Hubungan Melayu-Bugis kemudian berkembang jauh melampaui kerja sama militer.
Keturunan Bugis menjadi bagian penting dalam pemerintahan Kesultanan Johor-Riau-Lingga, bahkan turut berperan dalam perkembangan kerajaan-kerajaan Melayu di Selangor, Pontianak, dan wilayah lain di Semenanjung Malaya.
Jejak sejarah itu masih dapat ditemukan hingga sekarang.
Di Singapura terdapat kawasan Bugis, yang menjadi pengingat besarnya peran para pelaut dan pedagang Bugis dalam perkembangan kota tersebut.
Sementara di Johor dan Selangor, sejumlah keluarga bangsawan diketahui memiliki garis keturunan Bugis.
Pulau Penyengat Menjadi Simbol Persaudaraan
Di Kepulauan Riau, Pulau Penyengat menjadi salah satu saksi sejarah hubungan Melayu-Bugis.
Pulau kecil yang berada di depan Kota Tanjungpinang ini pernah menjadi pusat pemerintahan Yang Dipertuan Muda Riau.
Dari tempat inilah lahir berbagai karya besar, termasuk karya-karya Raja Ali Haji, tokoh sastra Melayu yang dikenal sebagai penyusun tata bahasa Melayu modern melalui kitab Bustanul Katibin serta pencipta Gurindam Dua Belas.
Warisan intelektual tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi berkembangnya Bahasa Indonesia.
Antara Sejarah dan Tradisi Lisan
Di kalangan masyarakat Bugis dan Melayu, istilah “Sumpah Setia Melayu-Bugis Tahun 1671” masih sering digunakan sebagai simbol ikatan persaudaraan.
Namun, dalam kajian sejarah akademik, penyebutan tahun 1671 masih menjadi bahan diskusi karena sumber-sumber primer yang tersedia lebih banyak merekam proses aliansi Melayu-Bugis pada awal abad ke-18, terutama setelah peristiwa perebutan kembali takhta Kesultanan Johor sekitar tahun 1718–1722.
Karena itu, sebagian sejarawan memandang “Sumpah Setia” lebih sebagai simbol historis atas hubungan politik dan persaudaraan yang berkembang melalui serangkaian peristiwa, bukan satu perjanjian tunggal yang dapat dipastikan tanggalnya.
Warisan yang Masih Terjaga
Hingga kini, hubungan Melayu dan Bugis tetap terpelihara melalui berbagai organisasi sosial, adat, dan budaya di Indonesia maupun Malaysia.
Di Kepulauan Riau, berbagai komunitas masih aktif menjaga nilai-nilai persaudaraan tersebut melalui kegiatan budaya, pelestarian sejarah, hingga kerja sama lintas daerah.
Lebih dari tiga abad telah berlalu, tetapi pesan yang diwariskan tetap relevan: persatuan, saling menghormati, dan kerja sama menjadi fondasi utama membangun masyarakat yang kuat.
Sumpah Setia Melayu-Bugis bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan bagian penting dari identitas sejarah kawasan Selat Malaka yang terus hidup hingga hari ini.
Referensi utama:
- Tuhfat al-Nafis karya Raja Ali Haji dan Raja Ali al-Haji.
- Leonard Y. Andaya, The Kingdom of Johor 1641–1728.
- Barbara Watson Andaya, To Live as Brothers: Southeast Sumatra in the Seventeenth and Eighteenth Centuries.
- Virginia Matheson Hooker, kajian tentang Kesultanan Riau-Lingga dan sejarah Melayu.
