Filosofi Siri’ Na Pacce dan Marwah Melayu: Dua Warisan Budaya yang Menyatukan Bugis dan Melayu di Kepulauan Riau
Batam | pkss-news.co.id – Hubungan masyarakat Bugis dan Melayu di Kepulauan Riau bukan sekadar ikatan sejarah migrasi atau perkawinan antarsuku. Lebih dari itu, keduanya dipersatukan oleh nilai-nilai luhur yang memiliki makna serupa, yakni Siri’ Na Pacce dalam budaya Bugis dan Marwah dalam budaya Melayu.
Meski lahir dari tradisi yang berbeda, kedua filosofi tersebut sama-sama menempatkan kehormatan, harga diri, tanggung jawab, dan kepedulian sosial sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.
Siri’ Na Pacce: Harga Diri dan Solidaritas
Dalam budaya Bugis-Makassar, Siri’ Na Pacce merupakan falsafah hidup yang diwariskan turun-temurun.
Siri’ dapat dimaknai sebagai harga diri, kehormatan, rasa malu ketika melakukan perbuatan tercela, sekaligus dorongan untuk menjaga integritas.
Sementara Pacce—atau Pesse’ dalam tradisi Bugis makassar—berarti rasa empati, solidaritas, dan kesediaan menanggung penderitaan bersama orang lain.
Bagi masyarakat Bugis, seseorang yang kehilangan siri’ dianggap kehilangan kehormatan sebagai manusia. Sebaliknya, seseorang yang memiliki pacce akan selalu hadir membantu sesama tanpa membedakan status sosial.
Berbagai penelitian menyebutkan bahwa falsafah ini menjadi identitas budaya Bugis-Makassar dan membentuk karakter masyarakat yang menjunjung tinggi kejujuran, keberanian, serta tanggung jawab sosial.
Marwah Melayu: Menjaga Harkat dan Martabat
Di sisi lain, masyarakat Melayu mengenal konsep marwah.
Marwah bukan sekadar kehormatan pribadi, melainkan menyangkut harkat, martabat, nama baik keluarga, adat, dan agama.
Dalam tradisi Melayu terdapat pepatah:
“Biar mati anak, jangan mati adat.”
Ungkapan tersebut menggambarkan pentingnya menjaga nilai, etika, dan kehormatan dalam kehidupan.
Nilai marwah juga tercermin dalam semboyan terkenal:
“Tak Melayu Hilang di Bumi.”
Maknanya bukan hanya mempertahankan identitas Melayu, tetapi menjaga nilai-nilai luhur seperti amanah, sopan santun, kejujuran, dan tanggung jawab agar tetap hidup dari generasi ke generasi.
Titik Temu Bugis dan Melayu
Sejumlah peneliti menyebutkan bahwa ketika orang Bugis bermigrasi ke Semenanjung Melayu, Kepulauan Riau, Johor, Lingga hingga Singapura sejak abad ke-17, mereka tidak meninggalkan nilai Siri’ Na Pacce.
Sebaliknya, nilai tersebut justru berasimilasi dengan budaya Melayu yang menjunjung tinggi marwah.
Akibatnya lahirlah identitas Melayu-Bugis, yang hingga kini masih kuat di Kepulauan Riau.
Dalam praktik kehidupan sehari-hari, kedua falsafah ini memiliki banyak kesamaan, antara lain:
- Menjaga kehormatan diri dan keluarga.
- Menepati janji dan amanah.
- Mengutamakan kejujuran.
- Menghormati adat dan agama.
- Memiliki solidaritas tinggi terhadap sesama.
- Siap berkorban demi kepentingan masyarakat.
Karena kesamaan nilai inilah masyarakat Bugis relatif mudah beradaptasi dengan masyarakat Melayu tanpa kehilangan identitas budayanya.
Warisan yang Masih Hidup di Kepulauan Riau
Di Kepulauan Riau, perpaduan nilai Bugis dan Melayu masih dapat ditemukan dalam kehidupan sosial maupun pemerintahan adat.
Sejarah Kesultanan Johor-Riau-Lingga menunjukkan besarnya peran bangsawan Bugis, terutama setelah Sumpah Setia Melayu-Bugis tahun 1722, yang melahirkan sistem pemerintahan bersama antara Sultan dari keturunan Melayu dan Yang Dipertuan Muda dari keturunan Bugis.
Hubungan tersebut bukan sekadar persekutuan politik, tetapi juga penyatuan nilai budaya yang saling menguatkan.
Karena itu, hingga kini masyarakat Melayu-Bugis di Kepulauan Riau dikenal menjunjung tinggi kehormatan, musyawarah, gotong royong, serta rasa tanggung jawab terhadap komunitasnya.
Relevan Hingga Kini
Di tengah arus globalisasi, Siri’ Na Pacce dan Marwah Melayu tetap relevan sebagai pedoman moral.
Kedua filosofi tersebut mengajarkan bahwa kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh karakter masyarakat yang menjaga integritas, menghormati sesama, dan memiliki kepedulian sosial.
Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi kuat hubungan Melayu dan Bugis selama ratusan tahun, sekaligus menjadi identitas budaya yang terus hidup di Kepulauan Riau hingga saat ini.
Referensi
- M. Hasyim Mustamin, Makmur Haji Harun, & Mohd. Kasturi Nor Abd Aziz. Siri’ dan Pesse’: Pembentuk Nilai dan Identiti Melayu Bugis, Journal of Human Development and Communication (JoHDeC).
- Fajrul Ilmy Darussalam. Siri’ Na Pacce dan Identitas Kebudayaan, Jurnal An-Nisa’.
- St. Magfirah. Siri’ Na Pacce dalam Suku Makassar Perspektif Al-Qur’an dan Hadis, Tahdis: Jurnal Kajian Ilmu Al-Hadis.
- Nilai-Nilai Asas Jati Diri Melayu, Pusat Pengajian Melayu/Malay Civilization.
- Prof. Suwardi, Budaya Melayu, Malay Civilization Centre.
