20 Tahun Bersama Prabowo, Rosano: 30 Tahun Difitnah, Beliau Tak Pernah Membalas
Batam | pkss-news.id – Ketua Relawan Pemenangan Prabowo Subianto di Kepulauan Riau, Rosano, akhirnya buka suara menanggapi maraknya serangan dan pemberitaan negatif terhadap Presiden Prabowo Subianto di berbagai platform media sosial.
Rosano yang mengaku telah empat periode berturut-turut menjadi ketua relawan sejak 2009, 2014, 2019 hingga 2024 menegaskan bahwa fitnah terhadap Prabowo bukanlah hal baru dan sudah berlangsung puluhan tahun.
“Saya bukan empat tahun, tapi empat periode jadi ketua relawan Pak Prabowo dari 2009 sampai 2024, 20 tahun saya tidak pernah berpindah karena saya yakin beliau akan jadi presiden di tahun 2024,” ujar Rosano dalam wawancara, Selasa malam.

Menurutnya, serangan di media sosial saat ini hanyalah kelanjutan dari fitnah panjang yang dialami Prabowo sejak 1996 hingga 2026. Ia menyebut Prabowo dituduh dengan berbagai stigma mulai dari penculik, pembunuh hingga pelanggar HAM, namun tidak pernah sekalipun membalas secara langsung.
“30 tahun beliau dicaci maki, dituduh penculik, dituduh pembunuh, pelanggar HAM. Beliau malah tidak pernah membalas orang-orang yang tidak jelas itu memfitnah beliau. Itu yang luar biasa dari seorang pemimpin seperti Pak Prabowo,” katanya.
Rosano menilai saat ini bangsa Indonesia menghadapi perang baru yang tidak lagi menggunakan senjata, melainkan melalui perang psikologis lewat media sosial. Ia mengingatkan bahwa hampir semua rakyat Indonesia kini memegang handphone dan mengonsumsi media sosial, sehingga hoaks dan isu negatif sangat mudah mencuci pikiran masyarakat.
Ia bahkan menyinggung munculnya gerakan-gerakan yang baru tampil dan langsung mengajak demo besar-besaran serta pembentukan kabinet bayangan yang menurutnya sengaja diciptakan untuk mengganggu pemerintahan dan merusak kepercayaan publik.
“Hancurnya bangsa ini bukan saja angkat senjata, tapi dengan berbagai platform media sosial untuk mencuci psikis rakyat. Ini bahaya ketika isu negatif dan hoaks sudah luar biasa untuk menipu rakyat. Ini perlu diantisipasi seluruh instrumen negara, jangan sampai wibawa negara hancur dengan gerakan kecil yang dibiayai dari luar negeri,” tegasnya.
Dalam wawancara itu, Rosano juga mengenang perjuangan awal Partai Gerindra di Batam yang menurutnya dulu tidak dilirik sama sekali. Ia menyebut hanya segelintir orang yang mau bergabung, mulai dari ketua pertama David Oktaveria, namun dirinya memilih tetap berada di jalur relawan di luar struktur partai karena meyakini perjuangan membutuhkan dua instrumen, baik di dalam maupun di luar partai.
“Sampai saat ini belum ada satu pun pengurus Partai Gerindra yang mengucapkan terima kasih, tidak ada. Tapi saya tidak minta imbal balik, cukup dengan hati ikhlas karena saya yakin Pak Prabowo akan jadi presiden. Alhamdulillah terbukti, mari kita sukseskan negara ini karena Pak Prabowo memihak rakyat,” ucapnya.
Menjawab pertanyaan soal perlunya upaya counter terhadap berita negatif, Rosano menilai Presiden tidak perlu menanggapi serangan tersebut. Ia menekankan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi yang tetap harus menjunjung adab ketimuran, apalagi presiden dipilih langsung oleh rakyat.
“Negara kita negara demokrasi tapi kita orang ketimuran punya adab. Itu presiden dipilih rakyat lalu kalian hina sehina-hinanya. Bayangkan dari tahun 96 dihina sampai 2026 apa tidak capek fitnah orang,” ujarnya.
Ia juga menyinggung hilangnya Pendidikan Moral Pancasila dan P4 atau Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila selama 10 tahun terakhir sebagai salah satu penyebab merosotnya moral bangsa. Padahal, kata dia, Indonesia memiliki lebih dari 700 suku dan 400 bahasa yang semuanya mengajarkan untuk saling menghargai dan memanusiakan manusia.
Sebagai bentuk ikhtiar menjaga kebangsaan, Rosano mengungkapkan pihaknya akan menggelar dialog kebangsaan pada tanggal 13 Agustus 2026 di Gedung Politeknik Batam bekerja sama dengan DPP PKSS Perkumpulan Kekerabatan Sulawesi Selatan dan RRI. Dialog yang sudah ketiga kalinya digelar ini akan menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, advokat, tokoh masyarakat, budayawan, hingga mantan Wakil Gubernur dan mantan Kapolda Kepri dengan mengusung empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Rosano menegaskan keyakinannya terhadap Prabowo sudah muncul bahkan sebelum era Presiden Gus Dur. Menurutnya, Indonesia pada akhirnya memang membutuhkan sosok pemimpin yang tegas, jujur, dan ikhlas di tengah kondisi negara yang tidak baik-baik saja, meski konsekuensinya musuh akan banyak bahkan dari orang terdekat.
“Saya yakin sebelum Pak Gus Dur, Pak Prabowo akan jadi pemimpin bangsa ini. Negara butuh presiden yang tegas dan jujur. Orang jujur itu musuhnya banyak, musuh terdekat pemimpin itu justru orang terdekat nya. Karena itu kita harap semua dukung lah Pak Prabowo, masih puluhan juta rakyat yang mendukung beliau. Jangan hancurkan bangsa ini hanya lewat fitnah di media sosial,” tutupnya.
